Sabtu, 29 Oktober 2016

MEMBANGUN KEBANGSAAN MELALUI PENDIDIKAN

MEMBANGUN KEBANGSAAN MELALUI PENDIDIKAN
            Secara historis, kesadaran kebangsaan indonesia diakui lahir pada 20 mei 1908, lebih satu abad yang lalu. Pada saat itu, pemuda telah menyadari bahwa kehidupan bangsa indonesia tidak berubah tanpa adanya gerakan bersama. Proses pencarian kearah gerakan nasionalis mulai muncul ke permukaan dengan berdirinya perkumpulan Budi Utomo pada tahun 1908 (ismail Arianto, 2006). Menurut mereka, pendidikan diyakini sebagai salah satu unsur pentig dalam membangun kehidupan masyarakat yang masih terbengkalai dan berada dalam belenggu Kolonial Belanda.
            Kolonialisme membawa akibat timbunya dari bangsa-bangsa yang ada di Asia, karena pada pokoknya Asia tidak hanya kehilangan kemerdekaan politik dan tidak hanya menderita dalam lapangan sosial dan ekonominya berupa timbul nya kemelaratan dan kesengsaraan, tetapi juga mengalami terbongkarnya beberapa akar kebudayaannya (Roeslan Abdulgani, 1967). Oleh karena itu, nesionalisme mempunyai tiga makna
1.      Aspek politik
Kolonialisme bukan saja telah merebut hak-hak politik bangsa-bangsa yang dijajah, tetapi juga adanya penindasan secara politik dan hukum terhdap mereka.
2.      Aspek sosial ekonomi
Menghentikan eksploitasi ekonomi asing dan membangun suatu masyarakat baru bebas dari kemelaratan dari kesengsaraan, sesuai dengan cita-cita keadilan sosial.
3.      Aspek Kultural
Menghidupkan kembali kepribadiannya disesuaikan dengan perubahan zaman.
Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir melalui perjuangan yang panjang, yang banyak menyita pikiran, tenaga, jiwa dan raga bangsa, bahkan saja karena musuh yang dihadapi adalah kaum penjajah yang secara pelengkapan perang lebih unggul, tetapi juga karena kehidupan masyarakat secara ekonomis masih tergolong rendah. Hanya dengan semangat yang menyala–nyala dan dengan keyakinan yang teguhlah bangsa indonesia memenangkan perjuangan baik secara fisik maupun melalui diplomasi.
Kebangsaan indonesia kini, bergeser perhatiannya pada masalah demokratis, hak asasi manusia, keadilan dan kesejahteraan. Fenomena ini yang demikian ini didukung oleh situasi yang semakin kuatnya keinginan masyarakat untuk melibatkan diri dalam memberikan masukan bagi kebijakan pemerintah terutama yang menyangut masalah kepentinga publik. Persoalan kebangsaan telah bergeser pada persoalan yang lebih dibutuhkan oleh masyaraat secara nyata seperti :
1.      Bidang Ekonomi
Lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, kesempatan kerja, kemiskinan, pengangguran, pengupahan, jaminan sosial, masalah buruh.
2.      Bidang Politik
Demokrasi, kebebasan, kekuasaan, sistem politik, partai politik, sistem pemerintahan, stabilitas politik, iklim politik, proses politik
3.      Bidang Hukum
Keadilan, supremasi hukum, legitimasi, pemerintah, ketenangan, ketentraman dan ketertiban masyarakat, KKN, pelanggaran HAM
4.      Bidang Soasial Budaya
Pendidikan kesehatan, pangan, pakaian, perumahan, memperoleh kesamaan hak.
Paham kebengsaan ini bersifat dinamis tergantung pada bagaimana suatu bangsa memiliki persepsi tentang bangsanya, sekarang rasa nasionalisme dan kebangsaan bangsa kita sedang diuji
Pertama, munculnya karakter buruk yang ditandai kondisi kehidupan sosial budaya kita yang berubah sedemikian drastis dan fantastis.
Kedua, salah satu kenyataan yang sering dialami dan menggangu kehidupan harmonis antar kelompok termasuk dengan pemerintah adalah konflik.
Ketiga, dalam tiga dekade terakhir ini Indonesia Tengah  mengalami proses kehilangan, mulai dari kehilangan dalam aspek alam fisik, alam hayati, manusia, dan budaya.
            Kebangsaan indonesia di massa depan bukanlah nasionalisme yang bersifat fisik untuk mencapai kemerdekaan, tetapi lebih dimaknai sebagai nasionalisme kultural yang menghargai kemanusiaan dan kebudayaan bangsa.  Melalui jalur pendidikan ini sangat strategis dalam membentuk dan mengubah sikap, khusunya bagi generasi muda, pedidikan yang di perlukan dan strategis adalah pendidikan karakter.
            Pendidikan yang berbasih karakter dan budaya bangsa adalah pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan karakter anak bangsa pada peserta didiknya kurikulum terintegrasi yang dikembangkan di sekolah. Pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan peserta didik. Karkakter peserta didik yang diharapka adalah karakter mulia yang dapat dikembangkan kepada peserta didik. Dalam hal ini, membangun karakter peserta didik mengarah pada pengertian tentang mengembangkan peserta didik agar memiliki kepribadian, perilaku, sifat, tabiat, dan watak baik atau mulia.
            Keberhasilam program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikatir  oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan ( SKL ), yang antara lain meliputi sebagai berikut :
1.      Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja
2.      Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri
3.      Menunjukan sikap percaya diri
4.      Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas
5.      Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasioanl
6.      Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif.
7.      Menunjukkan kemampuan  berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif
8.      Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya
9.      Menunjukan kemampuan menganalisis dan memcahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
10.  Mendeskripsikan gejala alam dan sosial
11.  Memanfaatkanlingkungan secara bertanggung jawab
12.  Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
13.  Menghargai karya seni dan budaya nasional
14.  Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya
15.  Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memnafaatkan waktu luang dengan baik.
16.  Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun
17.  Memahami hak dan kewajiban diri orang lain dalam pergaulan di masyarakat, menghargai adanya perbedaan pendapat.
18.  Menujukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris sederhana
19.  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah.
20.  Memiliki jiwa kewirausahaan.
Menurut Foerster ( Koesoema, 2010 ), terdapat 4 ciri dasar pendidikan karakter. Keempat ciri tersebut sebagai berikut:
1.      Keteraturan interior, setiap tindakan diukur berdarkan hierarki Nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan
2.      Kohorensi yang memberikan keberanian, membuat seseoran teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko.
3.      Otonomi. Seseorang mengintermalisasikam aturan dari luar sampai menjadikan nilai-nilai bagi pribadi
Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guru mengingini apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atau atas komitmen yang dipilih.

Kamis, 27 Oktober 2016

KILAS BALIK DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Sebagai salah satu wahana pembentuk karakter bangsa, sekolah adalah lokasi penting dimana para "Nation Builders" Indonesia diharapkan dapat berjuang membawa negara bersaing di kancah global. Seiring dengan derasnya tantangan global, tantangan dunia pendidikan pun menjadi semakin besar, hal ini yang mendorong para siswa mendapatkan prestasi terbaik.
Namun, dunia pendidikan di Indonesia masih memiliki beberapa kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang. Terbatasnya akses pendidikan di Indonesia, terlebih lagi di daerah berujung kepada meningkatnya arus urbanisasi untuk mendapatkan akses ilmu yang lebih baik di perkotaan.


Menurut pegiat pendidikan Indonesia, Anies Baswedan keterbatasan akses pendidikan di daerah menjadi pangkal derasnya arus urbanisasi. "Yang menjadi persoalan, di Jabodetabek jumlahnya sudah proporsional, tapi jangan kita hanya bicara urban. Justru di luar urban itu kita punya masalah dan itu yang menyebabkan migrasi ke Jakarta," ujar Anies. Secara tidak langsung, masyarakat Indonesia didorong untuk melakukan urbanisasi karena keterbatasan fasilitas di daerah. Ia menilai akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat dengan penyediaan fasilitas yang mendukung program tersebut. "Kalau sekolah hanya di ibukota kecamatan, maka yang jauh kan jadi nggak bisa sekolah," tandasnya.



Selain itu, jumlah guru yang sesuai dengan kualifikasi saat ini dinilai masih belum merata di daerah. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Hamid Muhammad saat ini banyak sekolah dasar (SD) di Indonesia kekurangan tenaga guru. Jumlahnya diperkirakan mencapai 112 ribu guru. 



Untuk mengatasinya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, dalam hal distribusi guru di daerah-daerah supaya lebih merata. "Jika manajemen guru bisa ditangani lebih optimal, tidak parsial, maka bisa dipindahkan ke kabupaten atau daerah yang berdekatan," ungkap Hamid.



Kemudian, untuk meningkatkan kualitas para guru, Kemendikbud akan meningkatkan kualifikasi guru melalui beasiswa S-1 bagi guru SD dan SMP. Hamid menjelaskan, jumlah guru SD di sekolah negeri dan swasta sekitar 1.850 ribu guru. Dari jumlah tersebut, hanya 60 persen guru yang sudah memenuhi kualifikasi dengan gelar S-1, sedangkan 40 persen lainnya belum memenuhi kualifikasi. Tiap tahunnya, Kemendikbud juga menyiapkan beasiswa untuk 100 ribu calon guru guna menempuh pendidikan S-1 melalui bantuan beasiswa S-1 untuk guru SD dan SMP. Di dunia internasional, kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negara di seluruh dunia berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia berada pada peringkat ke-69 dari 127 negara pada 2011.



Di sisi lain, kasus putus sekolah anak – anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi "Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun tidak dapat melanjutkan pendidikan,  Hal ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor ekonomi; anak – anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga; dan pernikahan di usia dini,” menurut Sekretaris Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng, Sc di Jakarta. Dalam laporan terbaru Program Pembangunan PBB tahun 2013, Indonesia menempati posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan angka 0,629. Dengan angka itu Indonesia tertinggal dari dua negara tetangga ASEAN yaitu Malaysia (peringkat 64) dan Singapura (18), sedangkan IPM di kawasan Asia Pasifik adalah 0,683.



"Kita harus menyelesaikan permasalahan pendidikan ini, karena kepemilikan atas pengetahuan adalah kunci seseorang mencapai kesejahteraan," menurut  figur pendidikan Indonesia, Anies Baswedan. Dalam perkembangan pendidikan Indonesia, pemerintah telah melaksanakan berbagai kebijakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan guna menghadapi persaingan bebas dunia yang akan segera berlaku dengan terwujudnya komunitas ASEAN pada tahun 2015 mendatang.



Untuk meringankan beban serta memperkokoh dasar pendidikan pada siswa Indonesia, Kemdikbud memastikan akan sepenuhnya memberlakukan Kurikulum 2013 mulai tahun 2014, bahkan sudah menyiapkan anggaran untuk mendukung operasional kurikulum tersebut. "Sudah siap dan tahun depan hampir semua (sekolah) bisa melaksanakan Kurikulum 2013," ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Musliar Kasim.



Kurikulum 2013 merupakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berfokus pada penguasaan pengetahuan yang kontekstual sesuai daerah dan lingkungan masing-masing.  Kurikulum tersebut menitikberatkan penilaian siswa pada tiga hal: sikap (jujur, santun, disiplin), keterampilan (melalui tugas praktek/ proyek sekolah), dan pengetahuan keilmuan. Pada tingkat dasar seperti SD, kurikulum ini lebih fokus pada pembentukan sikap dan keterampilan  hidup,  sedangkan keilmuannya lebih 'ringan' daripada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 



Pada tingkat lanjutan seperti SMP dan SMA, porsi penguasaan keilmuan lebih ditingkatkan karena pribadi murid dianggap sudah terbentuk pada tingkat dasar. Menurut Musliar, kurikulum baru akan diterapkan pada siswa SD kelas 1, 2, 4 dan 5; siswa SMP kelas 8 dan 9; serta siswa SMA kelas 10 dan 11. Pemerintah tidak akan mencetak buku bahan ajar. Seperti pelaksanaan pada tahun sebelumnya, Kemendikbud akan mengunggah buku bahan ajar ke dalam situs internet.  



Kemendikbud akan menetapkan harga eceran tertinggi atas buku yang ditargetkan akan beredar bebas tersebut. Kurikulum 2013 sendiri sebenarnya sudah dilaksanakan sejak pertengahan tahun 2013 di sejumlah sekolah yang telah diseleksi, meski sempat dikritik karena pelaksanaannya terkesan dipaksakan.  



Sebagai lembaga bantuan internasional yang bekerja di sektor pembangunan sosial-ekonomi, USAID Indonesia memberikan penekanan besar pada pengembangan kualitas pendidikan melalui sejumlah program yang berjalan sekarang salah satunya adalah melalui program beasiswa S2 USAID-PRESTASI. Pada tahun ini, USAID -PRESTASI memberikan beasiswa S2 kepada 31 profesional Indonesia. Program ini dibuka untuk umum dan diharapkan dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya masing – masing yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi positif di lingkungan kerja mereka masing – masing setelah mereka kembali ke Tanah Air.